Derita Mama Rina, Warga Flotim yang Sakit Kanker Payudara di Maumere
Sungguh pilu kisah kehidupan yang dialami oleh Katarina Diaz (41) warga Kabupaten Flores Timur yang saat ini didiagnosa sedang mengidap kanker payudara dan tinggal di rumah mantan majikannya di RT. 007/RW. 004, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka.
Saat disambangi florespedia pada Senin (31/5) sore di rumah majikannya, Katarina Diaz tampak tidur diteras rumah ditemani sang anak, Maria Yosefina Diaz (9), sedangkan tuan rumah, Mama Pepi Dela sedang ke gereja untuk mengikuti ibadah pada sore itu.
Kepada florespedia, Katarina Diaz mengaku menderita sakit sejak tahun 2019 lalu pada saat dirinya bekerja di Panti Asuhan Kasih Agape di Kota Surabaya.
"Awalnya itu timbul benjolan kecil, itu pas awal-awal Covid, jadi saya anggap seperti bisul biasa, seteleh itu dia membesar," cerita Katarina sambil menunjukkan bekas operasi pada dada bagian kanan.
Benjolan itu kemudian oleh Katarina ditunjukkan kepada kepala panti namun mereka tidak mengira itu merupakan gejala awal munculnya kanker payudara.
Meskipun benjolan itu makin terus bermunculan, Katarina tetap beraktivitas seperti biasa.
"Bisul atau benjolan yang pertama itu bisa pecah ko yang lainnya keras macam batu, lagian saya juga orang tidak mampu, tinggal di panti dan surat-surat tidak ada semua, jadi saya tanya ke mama mereka (kepala panti) tapi mama mereka juga diam saja, karena saya tidak punya apa-apa jadi saya juga diam saja, saya perantaun, yang penting mereka sudah tampung saya dan anak saya juga saya sudah bersyukur sekali," tutur Katarina sambil berlinang air mata.
Lama-kelamaan, benjolan pada bagian dada kanan Katarina Diaz makin membesar. Namun, tutur Katarina, tidak ada respon apapun dari pihak panti, tempat kerja Katarina Diaz.
Pada saat yang sama, ungkap Katarina, ada salah satu penghuni panti yang didiagnosa menderita penyakit yang sama, namun oleh pihak panti langsung dengan segera menangani sakit yang diderita anak tersebut.
"Dalam hati saya hanya bilang, kenapa anak itu barusan kena kok mereka sudah cepat urus, kenapa saya yang sudah lama dipanti, kenapa dorang (red ; mereka) bisa masa bodoh seperti ini," cerita Katarina.
Untuk pergi berobat, Katarina tak mampu berbuat banyak karena ketiadaan biaya dan tidak ada satupun keluarga yang ada bersama dia pada saat itu dan dirinya juga tidak mengetahui kemana harus menghubungi keluarganya.
Namun, Tuhan masih memberikan jalan kepada Katarina Diaz. Dengan berbekal beberapa nomor kontak di handphone miliknya, dia mencoba melakukan komunikasi dan akhirnya mendapatkan beberapa nomor kontak keluarganya dari salah satu anggota keluarga yang bekerja di Kupang.
"Saya telpon Ade sepupu, dia kerja di Kupang, dia kasih nomor semua baru saya kontak ke keluarga saya, saya dapat mabes (panggilan untuk mantan majikannya), disitu saya sudah mulai kuat karena sudah dapat keluarga," ujarnya.
Setelah sekian lama menderita sakit, pada bulan Oktober 2020, barulah Katarina diantar ke rumah sakit untuk menjalani operasi.
"Itu kontrol pertamanya di Siloam, keduanya itu di Rumah Sakit Mitra Keluarga, itu diperiksa urin sama rontgen, habis itu operasinya di Rumah Sakit Bhayangkara. Masuk di Bhayangkara hari Selasa, hari Rabu operasi, hari Kamis saya keluar," tutur Katarina.
Katarina mengatakan bahwa semua biaya operasi dibantu oleh donatur, namun dirinya tidak mengetahui apa-apa tentang donatur tersebut.
Dua minggu kemudian, Katarina menjalani pemeriksaan pasca operasi dan pembukaan benang hasil operasi. Namun setelah itu, dirinya tidak lagi mendapatkan pengobatan dari pihak rumah sakit maupun pihak panti.
"Jadi keluarga disini kirim uang sedikit-sedikit untuk tambah-tambah saya beli obat. Saya biasanya satu kali beli obat itu 80 ribu rupiah, itu obat amoxilin dan lain-lain tapi obat dari rumah sakit itu saya tidak tahu apa-apa," ujarnya.
Namun, penderitaan Katarina Diaz ternyata belum berakhir. Beberapa bulan setelah menjalani operasi, dirinya sempat jatuh di kolam renang pada saat mengantar salah satu anggota keluarga di panti asuhan tersebut yang sedang merayakan ulang tahun.
Sejak saat itu, dirinya kembali merasakan sakit. Namun, lagi-lagi pihak panti tidak berbuat banyak dan Katarina memilih diam karena merasa dia juga tidak mempunyai biaya untuk berobat. Dirinya hanya mengandalkan obat-obat antibiotik dan obat penahan rasa sakit.
Menurut pengakuan Katarina Diaz, selama bekerja di panti asuhan Kasih Agape, dirinya tidak pernah mendapatkan gaji karena menurut pihak panti, anak Katarina Diaz juga merupakan salah satu penghuni panti asuhan tersebut.
Setelah selesai dioperasi, bukannya harus beristirahat, Katarina Diaz memilih bekerja di luar panti untuk bisa memenuhi kebutuhannya untuk membeli obat dan keperluan lainnya. Gaji yang diperoleh pun tak seberapa, 400 ribu perbulan.
Setelah melakukan komunikasi dengan Mama Pepi Dela, mantan majikannya pada saat masih bekerja di Kota Maumere, Mama Papi Dela menyarankan agar Katarina Diaz dan anaknya kembali ke kampung halaman.
Sebelum pulang kampung, Katarina Diaz sempat meminta uang arisan bersama beberapa ibu-ibu yang ia ikuti selama ini. Meskipun belum jatuh tempo untuk gilirannya namun karena mengingat dirinya akan pulang kampung, dan uang yang ada ditangannya tersisa 100 ribu rupiah, Katarina Diaz meminta bagiannya terlebih dahulu, namun itupun tak dilayani dan dirinya hanya mendapatkan uang sebesar 1 juta 300 ribu rupiah.
Namun, seteleh tiba di kampung halamannya di Larantuka, Katarina Diaz memilih meminta Mama Pepi Dela untuk menjemput dirinya untuk dibawa ke Maumere karena meski sempat bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah Mama Pepi Dela namun dirinya sudah dianggap seperti keluarga sendiri.
"Saya mau ke Larantuka saya orang tidak mampu, orang tua kandung saya dan kakak sulung saya sudah meninggal dunia, hanya tinggal ade kandung dan kakak perempuan tapi hidupnya juga susah, makan saja susah," ujar Katarina.
Saat ini, Katarina Diaz mengeluh sakit pada dada bagian kanan dan bagian perut. Bahkan mata sebelah kanan mengalami rabun.
Menurut Ketua RT. 007/RW. 004, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Maria Imakulata Ivoni yang pada saat itu, semua identitas Katarina Diaz telah diurus oleh Mama Pepi Dela termasuk memperoleh kartu BPJS. Bahkan, direncanakan akan merujuk Katarina Diaz untuk berobat di Denpasar namun terkendala biaya transportasi karena selain Katarina Diaz, harus ada dua orang lagi untuk mendampingi Katarina Diaz selama di Denpasar.
