Ayah 3 Anak Ini Berjuang Lawan Kanker yang Gerogoti Kerongkongannya
– Wagiman Silalahi (40) terbaring lemah, tak berdaya di tempat tidurnya. Sebentar-sebentar ia menggeliat ke kiri ke kanan. Ia kesulitan bernafas, disebabkan menumpuknya dahak di kerongkongannya. Sebentar-sebentar ia memuntahkan dahaknya ke dalam teko plastik yang disiapkan istrinya. Teko itu ditaruh di dekat tempat tidurnya.
Saat ditemui di kediamannya, di Desa Purwodadi, Kecamatan Sunggal, Kabupaten DeliSerdang, istrinya, Ronalima Hutagalung menangis. Hatinya remuk melihat suaminya terus menerus menggeliat kesakitan. Suaminya itu bahkan tidak bisa lagi makan dari mulut. Harus dengan alat bantu, yaitu dimasukkan melalui selang yang langsung terhubung ke lambungnya. Selang itu dipasang dokter beberapa waktu lalu. “Beginilah kondisi suami saya setiap hari. Saya tidak sanggup melihatnya. Sedih sekali,” tangisnya, Rabu (2/6).
Ronalima menerangkan, telah divonis dokter bahwa suaminya tidak bisa lagi ditangani medis. Sebab, kanker esofagus yang menggerogoti saluran kerongkongan suaminya itu sudah berada pada level stadium 4. Esofagus merupakan saluran yang mengalirkan makanan dari mulut ke lambung. Kanker jenis ini adalah kanker ganas.Selain kepayahan bernafas, berat badan Wagiman juga merosot drastis. Tubuhnya kini semakin kurus. Istrinya menuturkan, penyakit suaminya baru mereka ketahui awal Januari 2021 lalu. Sejak itu, suaminya dibawa berobat ke mana-mana. Sudah banyak rumah sakit yang mereka kunjungi untuk berobat. Teranyar, suaminya dibawa berobat ke Rumah Sakit Murni Teguh, Medan. Namun kondisi kesehatan suaminya bukan menjadi lebih baik, justru makin memburuk.
Ronalima kini menanggung beban yang amat berat di pundaknya. Ia harus menjaga suaminya yang memerlukan perawatan intensif. Sementara, kebutuhan sehari-hari juga harus dipenuhi, apalagi ada tiga anak yang harus dinafkahi. Sayangnya, keuangan keluarga ini sudah terkuras habis membiayai pengobatan Wagiman selama ini. Mereka tidak punya uang lagi.
Selama ini Wagimanlah tulang punggung keluarga. Sebelum jatuh sakit, Wagiman bekerja di toko kelontong, milik orang lain. Sejak sakit, kondisi kesehatannya langsung memburuk. Sebelumnya, dokter memang menganjurkannya untuk puding, supaya kondisi kesehatannya membaik. Namun, kondisi finansial keluarga ini sudah seperti telur di ujung tanduk. Gawat darurat.Lantaran tidak punya uang sepeser pun, dan tidak tahu harus mengutang kepada siapa, Ronalima nekat mengontak Yayasan Peduli Pemulung Sejahtera (YPPS) untuk meminta pertolongan. Ketua YPPS Uba Pasaribu segera menggalang bantuan untuk Wagiman. Uba bergerilya mencari sumbangan untuk Wagiman.
“Tadi malam dia mengontak nomor teleponku. Langsung kutanggapi, itulah langsung kushare videonya. Kuusahakan menggalang dana. Tadi aku sudah ke rumahnya, melihat kondisinya yang sangat memprihatinkan, sekaligus menyerahkan donari dari para dermawan. Sampai tangis ibu itu. Terharu dia, ternyata masih ada yang peduli,” jelas Uba.
Bantuan dari dermawan yang diserahkan Uba sangat membantu keluarga yang ini. Lantaran mereka nyaris tidak bisa makan lagi, karena tak punya uang. “Aku tak tau lagi mau bilang apa. Keuangan kami sudah kandas beli obat. Kini kami coba memakai obat herbal, berharap suami saya sehat. Saya memohon pada teman-teman semua agar dapat membantu doa dan berbagi rejekinya buat kami,” pinta boru Hutagalung itu. (Redaksi)
