7 Ayat yang Menyebut Keburukan Bangsa Yahudi dalam Al-Quran
– Bangsa Israel, atau juga disebut bangsa Yahudi, merupakan salah satu bangsa yang sering disebut dalam Al-Quran. Berikut adalah 7 ayat yang berbicara tentang bangsa Yahudi dalam Al-Quran.
Kekejaman Pemerintah Israel terhadap bangsa Palestina masih terus berlangsung hingga saat ini (18/5/2021). Serangan darat dan udara mengantam gedung-gedung di Palestina. Masyarakat sipil tentu saja menjadi korban atas serangan beruntun tersebut. Ratusan korban tewas terus bertambah.
Bangsa Israel, atau juga disebut bangsa Yahudi, merupakan salah satu bangsa yang sering disebut dalam Al-Quran. Ada beberapa kata yang digunakan untuk menyebut bangsa tersebut.
Adakalanya, Al-Quran menggunakan kata “Israil”. Kata ini paling banyak digunakan, yaitu sebanyak 40 kali. Kata lainnya adalah “Bani Israil” yang diulang sebanyak 33 kali. “Ahli Kitab” disebut tidak kurang dari 31 kali. “Alladzina Hadu” sebanyak 10 kali. “Al-Yahudu” disebut sebanyak 7 kali.
Penyebutan Israil dan padanannya terkadang bernada positif. Tetapi tidak jarang bernada negatif, berisi kritik atas sikap dan perilaku mereka. Karena itu, bangsa Israel dapat menjadi pelajaran bagi kaum beriman; jangan sampai kaum beriman meniru sikap dan perilaku buruk bangsa tersebut dan jika bisa meneladani sifat baik atau positif mereka.
Mereka memiliki sejarah panjang. Beberapa di antara mereka ada yang diangkat menjadi nabi. Mereka mendapat anugerah Allah dalam beragam bentuk karunia. Ketika kondisi mereka semakin jauh dari agama, perilaku mereka akan menjadi semakin buruk. Dengan demikian, perilaku buruk bangsa Israel tidak hanya terjadi pada hari ini. Dimana bangsa Palestina menjadi korbannya. Pada masa lalu, para nabi juga menjadi korban kekejaman mereka. Berikut adalah 7 ayat yang berbicara tentang bangsa Yahudi dalam Al-Quran.
Senang Berselisih
}وَقَالَتِ الْيَهُودُ لَيْسَتِ النَّصَارَى عَلَى شَيْءٍ وَقَالَتِ النَّصَارَى لَيْسَتِ الْيَهُودُ عَلَى شَيْءٍ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ كَذَلِكَ قَالَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ مِثْلَ قَوْلِهِمْ فَاللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ (113)} [البقرة: 113[
Orang Yahudi berkata, “Orang Nasrani itu tidak menganut sesuatu (agama yang benar)” dan orang-orang Nasrani (juga) berkata, “Orang-orang Yahudi tidak menganut sesuatu (agama yang benar),” padahal mereka membaca Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak berilmu (musyrik Arab) berkata seperti ucapan mereka itu. Allah akan memberi putusan di antara mereka pada hari Kiamat tentang apa (agama) yang mereka perselisihkan. (Qs. Al-Baqarah: 113).
Tak Pernah Puas, Ingin Selalu Diikuti
{وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ (120)} [البقرة: 120]
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepadamu (Nabi Muhammad) sehingga engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).” Sungguh, jika engkau mengikuti hawa nafsu mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak ada bagimu pelindung dan penolong dari (azab) Allah. (Qs. Al-Baqarah: 120)
Merasa Disayang Tuhan, Padahal Dimurkai
{وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ (18)} [المائدة: 18]
Orang Yahudi dan orang Nasrani berkata, “Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.” Katakanlah, “(Jika benar begitu,) mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu? Sebaliknya, kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang Dia ciptakan. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa yang Dia kehendaki (pula). Milik Allahlah kerajaan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, dan kepada-Nya semua akan kembali.” (Qs. Al-Maidah: 18)
Senang Berbuat Zalim
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (51) } [المائدة: 51]
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(-mu).215) Sebagian mereka menjadi teman setia bagi sebagian yang lain. Siapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (Qs. Al-Maidah: 51)
Senang Bermusuhan
{وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ كُلَّمَا أَوْقَدُوا نَارًا لِلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللَّهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ (64) } [المائدة: 64]
Orang-orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu (kikir).” Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu. Mereka dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan. Sebaliknya, kedua tangan-Nya terbuka (Maha Pemurah). Dia memberi rezeki sebagaimana Dia kehendaki. (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu pasti akan menambah kedurhakaan dan kekufuran bagi kebanyakan mereka. Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari Kiamat. Setiap kali mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya. Mereka berusaha (menimbulkan) kerusakan di bumi. Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Qs. Al-Maidah: 64)
Paling Keras Permusuhannya
{ لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ (82) } [المائدة: 82]
Pasti akan engkau dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Pasti akan engkau dapati pula orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani.” Hal itu karena di antara mereka terdapat para pendeta dan rahib, juga karena mereka tidak menyombongkan diri. (Qs. Al-Maidah: 82)
Akidah Menyimpang
{وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (30) اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ (31) } [التوبة: 30، 31]
Orang-orang Yahudi berkata, “Uzair putra Allah,” dan orang-orang Nasrani berkata, “Al-Masih putra Allah.” Itulah ucapan mereka dengan mulut-mulut mereka. Mereka meniru ucapan orang-orang yang kufur sebelumnya. Allah melaknat mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?
Mereka menjadikan para rabi (Yahudi) dan para rahib (Nasrani) sebagai tuhan-tuhan selain Allah serta (Nasrani mempertuhankan) Al-Masih putra Maryam. Padahal, mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada tuhan selain Dia. Mahasuci Dia dari apa yang mereka persekutukan. (Qs. Al-Taubah: 30-31)
Ketujuh ayat di atas menyebut kata “Yahudi” dengan nada negatif, yaitu dikaitkan dengan beragam penyimpangan dalam agama dan rasa permusuhan mereka terhadap kaum Muslimin. Kebencian dan permusuhan terhadap Muslim, saat Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, merupakan potret kondisi sosial saat itu dimana kaum Yahudi memendam permusuhan terhadap Nabi SAW dan umat Muslim yang sedang tumbuh di Madinah.
Saat ini, juga ada bangsa Yahudi yang memiliki rasa kebencian terhadap umat Muslim. Tetapi, sejak zaman Nabi Muhammad SAW, juga ada orang-orang Yahudi yang dekat dengan umat Islam, bahkan dekat dengan Nabi SAW. Di antara sebagian orang Yahudi juga ada yang menjadi sahabat Nabi SAW. Gelar “Sahabat Nabi” bukan gelar sembarangan yang bisa diberikan ke orang yang dekat dengan Nabi SAW. Ia adalah derajat yang luhur dalam Islam.
Jika kita melihat kekejaman bangsa Yahudi atau bangsa Israel hari ini, sebagaimana yang ditampilkan militer Negara Israel yang menyerang Palestina, kita kembali diingatkan dengan sikap-sikap buruk bangsa Israel di masa lalu. Tidak hanya pada era nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad SAW, tetapi juga pada masa Nabi Muhammad SAW. Hari ini, bangsa tersebut kembali mengulang keburukan leluhurnya. Semoga kekerasan terhadap rakyat Palestina segera berakhir.
