Derita Hidrosefalus, Balita Ini Hanya Bisa Terbaring di Tempat Tidur
BATANG – Khoirul Mursid balita yang berusia dua tahun ini sehari-harinya hanya bisa berbaring di atas tempat tidur ataupun tikar. Putra pertama pasangan Nur Rofiq (32) dan Umi Marifah warga Desa Banteng Kecamatan Tersono, Kabupaten Batang ini menderita Hidrosefalus sejak beberapa bulan setelah dilahirkan.
Akibat penyakitnya itu, kepala Mursid memiliki lingkar kepala yang jauh lebih besar dibandingkan balita lain seusianya. Tidak hanya itu, didalam kepala bocah tersebut saat ini juga sudah tertanam selang yang berfungsi untuk mengalirkan cairan dari kepala.
Menurut penuturan Umi Marifah, anaknya tersebut sudah menjalani operasi di Semarang guna mengurangi cairan yang berada di dalam kepalanya. “Anak saya sudah dioperasi dan cairan di kepala sudah disedot. Selain itu, saat ini juga dipasang selang yang berfungsi untuk mengeluarkan cairan di kepala agar tidak tambah membesar,” ungkapnya pada Bupati Batang, Wihaji yang berkunjung ke rumahnya dalam kegiatan Tilik Warga, Selasa (16/03/2021).
Menurut Umi, untuk operasi pertama anaknya itu biayanya ditanggung oleh BPJS. Meski demikian, saat ini dirinya dan suami harus menyiapkan uang untuk biaya kontrol buah hatinya ke rumah sakit Tugu Semarang. Sedangkan untuk transportasi sendiri, pihaknya dibantu oleh mobil ambulans milik LazisMu.
“Setelah dioperasi kondisi anak saya sudah lebih baikan, namun hingga kini tidak bisa mengecil lagi, meskipun juga tidak membesar seperti dulu. Sedangkan untuk biaya kontrol sendiri, ya dari hasil pendapatan suami yang bekerja sebagai buruh bangunan,” jelas Umi.
Nur Rofiq menambahkan, sebenarnya anaknya akan menjalani operasi lagi, namun dengan resiko yang sangat besar. Karena itulah, dirinya dan istri memutuskan untuk membatalkanya.
“Ya mumpung pak Bupati ‘rawuh’ kesini, kami berharap adanya bantuan guna membantu biaya operasional untuk kontrol ke rumah sakit setiap bulanya,” harap Nur Rofig.
Bupati Batang Wihaji mengatakan, Pemkab berusaha untuk membantu menangani kondisi perawatan Khoirul Mursid. Bahkan sejak pertama kali diketahui mengalami Hidrosefalus, pihak puskesmas telah pro aktif memberikan pendampingan.
“Dari laporan Kepala Puskesmas Tersono, kondisi adik Khoirul Mursid sudah termonitor sejal lahir, dan sudah tertangani sejak awal. Termasuk memberi rujukan untuk operasi di rumah sakit Tugu Semarang,” kata Bupati Wihaji.
Untuk saat ini, lanjut Bupati, tugas Pemkab Batang berupaya semaksimal mungkin agar kondisinya kesehatanya bisa lebih baik lagi. “Pihak puskesmas secara rutin memantau kondisi balita pasca operasi, dan Alhamdulillah saat ini kepalanya sudah tidak membesar lagi setelah operasi dan dipasangi selang. Semoga kondisinya bisa lebih baik lagi kedepannya,” bebernya.
Terkait permintaan bantuan untuk biaya operasional kontril setiap bulannya ke Semarang, Bupati menyatakan siap membantu. “Semoga kondisi adik kita ini bisa lebih baik lagi ke depannya, dan kita akan bantu untuk biaya operasional saat kontrol ke Semarang,” tandas Wihaji.
Pada kunjungannya itu, Bupati menyerahkan bantuan uang sebesar Rp 2 juta dan paket sembako kepada orang tua Khoirul Mursid. “Mungkin bantuan ini tidak seberapa, namun semoga bisa membantu meringankan beban kedua orang tua. Dan kita akan berusaha untuk memberikan pendampingan dan bantuan, agar kondisi adik kita ini bisa lebih baik lagi kedepannya,” pungkas Bupati. (don)
